BanditHijo.dev

Review Split Keyboard Chocofi

Created at: Jul 8th, 2026
Author by: BanditHijo
Table of Contents

Prakata

Saya sebelumnya tidak pernah tertarik dengan split keyboard atau ergo keyboard. Menurut saya bentuknya cukup aneh seperti keyboard biasa yang dibelah jadi dua bagian. Saya tidak suka bentuknya. Ini murni preferensi pribadi saja. Tidak suka bukan berarti jelek.

Namun, semua berubah sejak saya menemukan Corne keyboard. Split keyboard, low profile, dengan jumlah key yang sedikit (hanya 42 atau 36 keys), case yang tipis, dimensi yang mini (seukurang telapak tangan), configurable, remapable, dan case yang customable.

Cerita dulu

Berhubung ini adalah artikel pertama saya yang membahas tentang typing, saya akan cerita dulu background history saya berkenalan dengan keyboard.

SD kelas 4 atau 5 saya pertama kali bertemu komputer dan keyboard, karena ikut les komputer yang diadakan dari sekolah SD tapi ruang komputernya ada di gedung SMA. Saat itu kami dikenalkan dengan game di komputer. Saya paling suka bermain Mario Teaches Typing (1993).

gambar 1

Gambar 1. Mario Teaches Typing (1993). Source https://www.uvlist.net/game-211662-Mario+Teaches+Typing

Saat SMP, orang tua saya membeli komputer untuk di rumah. Alhamdulillah menang dorprize sehingga dapat komputer hadiah, Pentium MMX yang diletakkan di kamar saya.

Saat kelas 2 SMA, untuk pertama kali ada guru (pak Taufik) yang notice kalau saya cukup cepat dalam mengetik. Sempat 1-2 kali diminta untuk mengetik di laptop beliau.

Kelas 2 SMA, saya mengikuti lomba web beregu tingkat nasional. Di tim ini saya kebagian mengetik konten yang akan dipajang di website yang akan dilombakan.

Singkat cerita, sampai kuliah yang kedua, salah satu teman yang juga seorang Finance, menilai ketikan saya cukup cepat tapi jarinya tidak sesuai. Tidak touch typing. Karena ia sempat belajar touch typing di kampus dan menjadi persyaratan lulus. Dari sini saya pertama kali mengetahui tentang touch typing (mengetik tanpa melihat tuts keyboard).

Sampai saat COVID-19 saya sudah bekerja sebagai software developer, saya menyadari dalam proses mengetik, proses problem solving di pikiran saya juga bercampur dengan proses mengetik. Saya masih memikirkan beberapa lokasi key yang belum saya hafal, terutama key yang berkaitan dengan simbol-simbol code. Terkadang juga harus melihat posisi dari key yang ingin saya tekan jika saya kehilangan referensi posisinya. Pada tahap ini, saya mulai menyadari touch typing mungkin bisa membuat proses mengetik code tidak bercampur dengan proses berfikir.

Saya putuskan untuk mulai belajar touch typing. Ternyata saya harus mulai belajar dari awal lagi untuk membiasakan jari-jari agar mengetik sesuai dengan posisi dan porsinya masing-masing.

Dari informasi yang saya kumpulkan, belajar touch typing banyak yang merekomendasikan untuk memulai dari keybr.com. Karena keybr dapat mengidentifikasi jari mana yang lemah dan akan terus men-generate kata yang mengandung huruf yang menjadi kelemahan kita. Di sini saya mulai membangun fondasi touch typing yang benar. Kalau dilihat dari data log yang ada di keybr, saya mulai latihan dari November 2021 sampai Februari 2022.

Kemudian setelah mulai nyaman dan terbiasa dengan touch typing, saya mulai beralih ke monkeytype.com. Di sini saya pergunakan untuk melancarkan dan membangun muscle memory yang lebih solid. Hingga hari ini, saya masih menggunakan monkeytype untuk membangun kecepatan mengetik dalam satuan Words per Minute (WPM).

Keychron K6

Setelah sangat lancar dengan touch typing, WPM sudah rata-rata di 70-80. Kejenuhan mengetik mulai muncul. Saya mengatasi dengan mencoba menggunakan mechanical keyboard.

Saya pilih Keychron karena ini adalah mechanical keyboard pertama saya, dan saya igin mendapatkan pengalaman yang baik.

Singkat cerita saya juga sudah mulai jenuh dengan switch yang high profile. Saya pun ingin mencoba low profile switch. Tapi sekalian saja saya coba split keyboard.

Saya juga merasa saat menggunakan standard keyboard sering tertukar antara kiri dan kanan. Seperti terjadi semacam interfere signal karena tangan kanan dan kiri berdekatan. Mungkin kalau diilustrasikan akan seperti ini.

gambar 2

Gambar 2. Teori interfere signal yang saya bayangkan

Dengan split keyboard maka akan membarikan jarak, sehingga tidak ada signal yang beririsan (ini bercanda ya).

Chocofi

Sebelum mengenal Chocofi, sebenarnya saya hanya mengincar Corne. Tapi setelah berkeliling market place, saya tidak menemukan pre-built model Corne yang saya suka. Saya cenderung ke Chocofi pre-built yang sudah sesuai dengan selera saya, yaitu:

  1. Full black
  2. Low profile
  3. Wireless (bluetooth)
  4. Menggunakan case (agar board tidak terekspose)

Pilihan pun jatuh kepada Chocofi.

Berikut ini profil dari Chocofi.

  1. Keyboard shield dan casing 3D print dengan kontroler NRF528540 yang support ZMK Studio
  2. Tiap sisi punya 3 baris, 5 kolom, dan 3 tombol buat ibu jari (thumb cluster)
  3. Column Staggered dengan kolom pinky dibuat lebih turun mengikuti bentuk anatomi jari kelingking
  4. Terinspirasi dari keyboard Fifi, dan menggunakan firmware Seperti Corne dan Miryoku
  5. Support ZMK Studio untuk kebutuhan custom mapping keys sesuai kebutuhan tanpa perlu flash tinggal copy & paste
  6. Dilengkapi Switch On Off dan menggunakan baterai 500mah di masing-masing sisi.

Berikut ini spesifikasi dari Chocofi.

  1. Hotswappable Kailh Choc V1 Red Pro (linear switch)
  2. Programmable buttons
  3. PLA+ Case
  4. Support ZMK Studio
  5. Rubber Feets
  6. Suport 5 Multiple Device
  7. Type C Connector
  8. 1 Meter braided USB Type C Cable

gambar 3

gambar 4

gambar 5

Awal mula nyoba, saya cuma dapat 5 WPM. Beberapa jam kemudian mulai naik ke 15 WPM. Setalah 24 jam mulai naik ke 40 WPM.

Ini adalah progres setelah seminggu.

Pesan Penulis

Split keyboard bukanlah level tertinggi dari penggunaan keyboard. Split keyboard hanya opsi atau pilihan dari beberapa pilihan model keyboard. Tidak semua orang mau dan cocok menggunakan split keyboard.

* * *
Rizqi Nur Assyaufi (bandithijo)
My journey kicks off from reading textbooks as a former Medical Student to digging bugs as a Software Engineer – a delightful rollercoaster of career twists. Embracing failure with the grace of a Cat avoiding water, I've seamlessly transitioned from Stethoscope to Keyboard. Armed with ability for learning and adapting faster than a Heart Beat, I'm on a mission to turn Code into a Product.