Review Split Keyboard Chocofi
Table of Contents
Prakata
Saya sebelumnya tidak pernah tertarik dengan split keyboard atau ergo keyboard. Menurut saya bentuknya cukup aneh seperti keyboard biasa yang dibelah jadi dua bagian. Saya tidak suka bentuknya. Ini murni preferensi pribadi saja. Tidak suka bukan berarti jelek.
Namun, semua berubah sejak saya menemukan Corne keyboard. Split keyboard, low profile, dengan jumlah key yang sedikit (hanya 42 atau 36 keys), case yang tipis, dimensi yang mini (seukurang telapak tangan), configurable, remapable (programmable), dan case yang customizeable.
Cerita dulu
Berhubung ini adalah artikel pertama saya yang membahas tentang typing, saya akan cerita dulu background history saya berkenalan dengan keyboard.
SD kelas 4 atau 5 saya pertama kali bertemu komputer dan keyboard, karena ikut les komputer yang diadakan dari sekolah SD tapi ruang komputernya ada di gedung SMA. Saat itu kami dikenalkan dengan game di komputer. Saya paling suka bermain Mario Teaches Typing (1993).

Gambar 1. Mario Teaches Typing (1993). Source https://www.uvlist.net/game-211662-Mario+Teaches+Typing
Saat SMP, orang tua saya membeli komputer untuk di rumah. Alhamdulillah menang dorprize sehingga dapat komputer hadiah, Pentium MMX yang diletakkan di kamar saya.
Saat kelas 2 SMA, untuk pertama kali ada guru (pak Taufik) yang notice kalau saya cukup cepat dalam mengetik. Sempat 1-2 kali diminta untuk mengetik di laptop beliau.
Kelas 2 SMA, saya mengikuti lomba web beregu tingkat nasional. Di tim ini saya kebagian mengetik konten yang akan dipajang di website yang akan dilombakan.
Singkat cerita, sampai kuliah yang kedua, salah satu teman yang juga seorang Finance, menilai ketikan saya cukup cepat tapi jarinya tidak sesuai. Tidak touch typing. Karena ia sempat belajar touch typing di kampus dan menjadi persyaratan lulus. Dari sini saya pertama kali mengetahui tentang touch typing (mengetik tanpa melihat tuts keyboard).
Sampai saat COVID-19 saya sudah bekerja sebagai software engineer, saya menyadari dalam proses mengetik, proses problem solving di pikiran saya juga bercampur dengan proses mengetik. Saya masih memikirkan beberapa lokasi key yang belum saya hafal, terutama key yang berkaitan dengan simbol-simbol code. Terkadang juga harus melihat posisi dari key yang ingin saya tekan jika saya kehilangan referensi posisinya. Pada tahap ini, saya mulai menyadari touch typing mungkin bisa membuat proses mengetik code tidak bercampur dengan proses berfikir.
Saya putuskan untuk mulai belajar touch typing. Ternyata saya harus mulai belajar dari awal lagi untuk membiasakan jari-jari agar mengetik sesuai dengan posisi dan porsinya masing-masing.
Dari informasi yang saya kumpulkan, belajar touch typing banyak yang merekomendasikan untuk memulai dari keybr.com. Karena keybr dapat mengidentifikasi jari mana yang lemah dan akan terus men-generate kata yang mengandung huruf yang menjadi kelemahan kita. Di sini saya mulai membangun fondasi touch typing yang benar. Kalau dilihat dari data log yang ada di keybr, saya mulai latihan dari November 2021 sampai Februari 2022.
Setelah mulai nyaman dan terbiasa dengan touch typing, saya mulai beralih ke monkeytype.com. Di sini saya pergunakan untuk melancarkan dan membangun muscle memory yang lebih solid. Hingga hari ini, saya masih menggunakan monkeytype untuk membangun kecepatan mengetik dalam satuan Words per Minute (WPM).
Keychron K6
Setelah sangat lancar dengan touch typing, WPM sudah rata-rata di 70-80. Kejenuhan mengetik mulai muncul. Saya mengatasi dengan mencoba menggunakan mechanical keyboard.
Saya pilih Keychron karena ini adalah mechanical keyboard pertama saya, dan saya igin mendapatkan pengalaman yang baik.
Singkat cerita saya juga sudah mulai jenuh/fatigue dengan high profile switch. Saya pun ingin mencoba low profile switch. Tapi, sekalian saja saya coba split keyboard.
Saya merasa saat menggunakan standard keyboard sering tertukar antara kiri dan kanan. Seperti terjadi semacam interfere signal karena tangan kanan dan kiri berdekatan. Mungkin kalau diilustrasikan akan seperti ini.

Gambar 2. Ilustrasi tentang interfere signal yang saya bayangkan
Dengan menggunakan split keyboard, akan memberikan jarak antara kedua tangan, sehingga tidak ada signal yang beririsan (ini bercanda ya).
Chocofi
Sebelum mengenal Chocofi, sebenarnya saya hanya mengincar Corne. Tapi setelah berkeliling marketplace, saya tidak menemukan pre-built model Corne yang saya suka. Saya cenderung menyukai Chocofi pre-built yang sudah sesuai dengan selera saya, yaitu:
- Full black
- Low profile
- Wireless (bluetooth)
- Menggunakan case (agar board tidak terekspose)
Pilihan pun jatuh kepada Chocofi.
Berikut ini profil dari Chocofi.
- Keyboard shield dan casing 3D print dengan kontroler NRF528540 yang support ZMK Studio
- Tiap sisi punya 3 baris, 5 kolom, dan 3 tombol buat ibu jari (thumb cluster)
- Column Staggered dengan kolom pinky (kolom ke 5) dibuat lebih turun mengikuti bentuk anatomi jari kelingking. Menurut saya, layout ini cocok untuk tipikal jari orang asia yang memiliki jari jemari yang mungil
- Terinspirasi dari keyboard Fifi, dan menggunakan firmware Seperti Corne dan Miryoku
- Support ZMK Studio untuk kebutuhan custom mapping keys sesuai kebutuhan tanpa perlu flash tinggal copy & paste
- Dilengkapi Switch On-Off dan menggunakan baterai 500 mAh di masing-masing sisi.
Berikut ini spesifikasi dari Chocofi.
- 3x5 Column staggered + 3 buttons on thumb cluster
- NRF52840 controller (type c, ble, bluetooth)
- OLED 0.91 inchi 128x32 pixel SSD1306 I2C
- Socket Kailh choc hot swap low profile 1350
- Switch Kailh choc v1 red pro low profile (linear)
- Keycap Kailh choc v1 PBT black blank
- 3D Printed PLA+ Case
- Programmable buttons
- Support ZMK Studio (menggunakan ZMK Firmware)
- Rubber Feets
- Suport 5 Multiple Device through Bluetooth
- Li-Po Battery 500 mAh
- Type C Connector
- 1 Meter braided USB Type C Cable





























Karena keyboard ini tidak ada case dan karena bentuknya yang kecil dan terlihat ringkih, saya khawatir jika dimasukkan tas akan baku hantam dengan barang-barang lain di dalam tas, maka saya putuskan untuk membeli case. Setelah saya hitung-hitung dimensinya cocok dengan Fujifilm Instax Mini case.








Awal mula mencoba mengetik, saya hanya mendapatkan 5 WPM. Beberapa jam kemudian mulai naik ke 15 WPM. Setalah 24 jam mulai naik ke 40 WPM.
Ini adalah progres setelah seminggu.
Surprisingly, mengetik di keyboard ini ternyata menyenangkan. Tidak ada fatigue pada otot-otot digitorum (kelompok otot yang mengontrol gerakan jari tangan). Mengetiknya memang masih dragged karena masih harus membiasakan dengan konsep layer. Karena keyboard ini hanya memiliki 36 key, maka key yang tidak ada di base layer akan disimpan di layer berbeda.
Layering
36 key tentu tidak akan memenuhi semua kebutuhan mengetik. Maka dari itu keyboard-keyboard dengan key yang sedikit seperti ini biasanya menggunakan konsep layering. Dimana mapping key akan dibagi berdasarkan beberapa layer.
Berikut ini layer-layer yang saya pergunakan.
- layer 0 (qwerty_layer), base layer atau front layer
- layer 1 (numsym_layer), numeric & symbol layer
- layer 2 (fun_layer), function buttons
- layer 3 (sys_layer), system layer untuk pengaturan konektifitas bluetooth

Gambar 10. layer 0 (qwerty_layer), base layer atau front layer

Gambar 11. layer 1 (numsym_layer), numeric & symbol layer

Gambar 12. layer 2 (fun_layer), function buttons

Gambar 13. layer 3 (sys_layer), system layer untuk pengaturan konektifitas bluetooth
Pada layer-layer tersebut dapat dilihat pada layer 0 atau base layer atau qwerty_layer, terdapat tombol referensi untuk mengakse layer 1 dan 2 yang terdapat pada thumb cluster kiri dan kanan.
Untuk mengakses layer 1, saya menekan dan tahan tombol space. Dengan begini, saya sudah masuk ke layer 1, tinggal menekan button apa yang ingin ditekan pada layer 1. Begitu juga untuk mengakses layer 2.
Untuk mengakses layer 3, saya perlu berada di layer 2, lalu menekan button referensi untuk ke layer 3 yang juga terdapat di thumb cluster sebelah kanan.
Saya masih bereksperimen dengan layout layering seperti apa yang cocok. Jadi akan sangat besar dikemudian hari layout ini akan berubah.
Saya menghindari menggunakan layer yang terlalu banyak agar tidak terjadi “layering fatigue” yaitu kondisi “keblinger” atau kelelahan otak karena kebanyakan layer. Hahaha.
Selain pendekatan layer juga ada pendekatan combo button.
Combo
Sesuai namanya combo button berarti menekan 2 atau lebih button secara bersama-sama untuk memanggil fungsinya.
Saya tidak terlalu banyak menggunakan combo button. Hanya saya pergunakan untuk hal-hal yang berkaitan dengan pengaturan saja.

Kesan penulis
Beberapa manfaat yang saya rasakan setelah mencoba menggunakan Chocofi split keyboard.
- Kita di-encourage untuk menggunakan touch typing. Karena (dengan split keyboard) jika tidak menggunakan touch typing artinya kita akan melihat ke dua sisi keyboard, bisa di sisi kanan atau kiri. Split keyboard membuat proses mengetik menjadi tidak efektif.
- Karena “dipaksa” untuk menggunakan touch typing, membuat jari-jemari menjadi lebih disiplin dengan porsinya masing-masing. Ini sangat cocok dengan layout split keyboard yang terbelah jadi dua di sisi kanan dan kiri. Tidak ada jari di tangan kiri yang menyeberang ke sisi kanan, begitu pula sebaliknya.
- Minim typo. Karena jarak tangan cukup berjarak dan tidak saling berdekatan. Ini menyebabkan tidak terjadi race condition saat pengiriman sinyal dari otak ke dua sisi tangan (note: ini pendapat saya, saya belum mencari literaturenya).
- Proses adaptasi jika sudah bisa mengetik dengan touch typing tidak terlalu lama. Adaptasi dari staggered ke column-staggered juga tidak terlalu lama. Saya 1 pekan sudah bisa menyesuaikan dengan column-staggered dari staggered. Jujur lebih nyaman menggetik di column-staggered (bisa jadi ortholinear juga lebih nyaman, saya belum punya keyboard dengan ortholinear). Karena posisi jari dari homerow hanya perlu bergerak ke atas atau ke bawah, bukan serong atas atas atau serong bawah.
- Sangat mudah diprogram ulang. Karena menggunakan ZMK Firmware, sehingga sangat mudah untuk diprogram ulang jika kita mau memodifikasi tombol dan layer sesuai dengan kebutuhan kita.
- Berpotensi besar untuk dicustom sendiri sesuai keinginan dan kebutuhan. Misal ingin ganti keycaps, ganti switch, ingin ganti case shield nya, dan lain-lain.
- Karena point 6, artinya juga mudah untuk diperbaiki sendiri.
Dari beberapa kesan tersebut, dapat terlihat jelas bahwa fondasi utama jika ingin menikmati mengetik dengan keyboard adalah touch typing.
Beberapa hal yang saya tidak begitu nyaman dengan Chocofi split keyboard.
- Barangnya sulit didapat. Karena builder ada di luar negeri, yang tersedia di marketplace Indo tidak begitu beragam.
- Learning cuve nya lumayan. Untuk dapat menggunakan split keyboard, kita harus menyediakan waktu untuk menggunakan. Berteman dengan ketidaknyamanan untuk beberapa saat.
- Chocofi tidak sepopuler Corne. Sehingga tidak banyak yang membuat modifikasi, terutama dibagian case. Karena kelebihan dari keyboard seperti ini adalah sangat mudah untuk bergonta-ganti case.
Pesan penulis
Split keyboard bukanlah level tertinggi dari penggunaan keyboard. Split keyboard hanya opsi atau pilihan dari beberapa pilihan model keyboard yang beredar di pasaran saat ini. Tidak semua orang cocok menggunakan split keyboard. Pergunakan perkakas/tools (dalam hal ini keyboard) yang memang nyaman kamu gunakan.
Referensi
-
ZMK Firmware
Diakses tanggal: 2026-07-11 -
Nickcoutsos Keymap Editor
Diakses tanggal: 2026-07-11